Kode Referensi Indikator Pembangunan
Standar baku pengkodean dan penyelarasan indikator pembangunan untuk dokumen perencanaan nasional dan daerah.
Total Indikator 2,396
Walidata Direktorat Data Pembangunan dan Pemerintah Digital
Kementerian PPN/Bappenas
Riwayat Perubahan
[Catatan Rilis] Pemutakhiran Kode Referensi Indikator Pembangunan berdasarkan pemutakhiran Indikator Outcome Pembangunan Daerah dari Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD).
Dasar Hukum
Keputusan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor KEP. 26A/M.PPN/HK/05/2025 Tentang Kode Referensi Indikator Pembangunan
Tanggal Rilis
10 November 2025
Versi
| No | Kode Indikator | Nama Indikator | Tipe | Satuan | Klasifikasi | Definisi | Rumus Perhitungan | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1461 | Rata-rata Nilai Asesmen Tingkat Nasional: Literasi Membaca tingkat SD | Child | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota; | Kemampuan peserta didik dalam memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif di masyarakat. | |||
| 1462 | Rata-rata Nilai Asesmen Tingkat Nasional: Literasi Membaca tingkat SMP | Child | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota; | Kemampuan peserta didik dalam memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif di masyarakat. | |||
| 1463 | Rata-rata Nilai Asesmen Tingkat Nasional: Literasi Membaca tingkat SMA | Child | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota; | Kemampuan peserta didik dalam memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif di masyarakat. | |||
| 1464 | Rata-rata Nilai Asesmen Tingkat Nasional: Literasi Membaca tingkat SMK | Child | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota; | Kemampuan peserta didik dalam memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif di masyarakat. | |||
| 1465 | Rata-rata Nilai Asesmen Tingkat Nasional: Literasi Membaca tingkat SDLB | Child | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota; | Kemampuan peserta didik dalam memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif di masyarakat. | |||
| 1466 | Rata-rata Nilai Asesmen Tingkat Nasional: Literasi Membaca tingkat SMPLB | Child | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota; | Kemampuan peserta didik dalam memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif di masyarakat. | |||
| 1467 | Rata-rata Nilai Asesmen Tingkat Nasional: Literasi Membaca tingkat SMALB | Child | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota; | Kemampuan peserta didik dalam memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif di masyarakat. | |||
| 1468 | Rata-rata Nilai Asesmen Tingkat Nasional: Numerasi tingkat SD | Child | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota; | Kemampuan peserta didik dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia. | |||
| 1469 | Rata-rata Nilai Asesmen Tingkat Nasional: Numerasi tingkat SMP | Child | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota; | Kemampuan peserta didik dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia. | |||
| 1470 | Rata-rata Nilai Asesmen Tingkat Nasional: Numerasi tingkat SMA | Child | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota; | Kemampuan peserta didik dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia. | |||
| 1471 | Rata-rata Nilai Asesmen Tingkat Nasional: Numerasi tingkat SMK | Child | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota; | Kemampuan peserta didik dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia. | |||
| 1472 | Rata-rata Nilai Asesmen Tingkat Nasional: Numerasi tingkat SDLB | Child | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota; | Kemampuan peserta didik dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia. | |||
| 1473 | Rata-rata Nilai Asesmen Tingkat Nasional: Numerasi tingkat SMPLB | Child | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota; | Kemampuan peserta didik dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia. | |||
| 1474 | Rata-rata Nilai Asesmen Tingkat Nasional: Numerasi tingkat SMALB | Child | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota; | Kemampuan peserta didik dalam berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia dan dunia. | |||
| 1475 | Rata-rata Nilai PISA | Parent | - | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi | Ukuran hasil asesmen peserta didik secara global pada aspek literasi membaca, matematika, dan sains yang diselenggarakan oleh The Organisation for Economic Cooperation and Development. Peserta didik yang berpartisipasi dalam PISA adalah peserta didik yang berusia 15 tahun serta setidaknya telah menyelesaikan 6 tahun sekolah formal yang dipilih secara acak dari sekolah-sekolah terpilih. | Rata-rata nilai PISA=i=1nntn Keterangan: nt = Nilai tes PISA peserta didik Indonesia berusia 15 tahun pada aspek literasi membaca atau matematika atau sains n = Jumlah peserta didik Indonesia berusia 15 tahun yang mengikuti tes PISA | ||
| 1476 | Sitasi internasional perguruan tinggi Indonesia; a) rasio sitasi; b) h-index | Parent | Sitasi Internasional menyatakan jumlah kutipan yang diterima dalam tahun yang dipilih oleh jurnal terhadap dokumen yang diterbitkan dalam periode sebelumnya, yaitu kutipan yang diterima pada tahun tertentu terhadap dokumen yang diterbitkan dalam tahun sebelumnya dengan syarat semua jenis dokumen dipertimbangkan. Kinerja Sitasi Internasional perguruan tinggi digunakan untuk melihat produktivitas hasil riset perguruan tinggi yang diukur melalui rasio sitasi dan H-index. Rasio sitasi adalah ukuran yang menunjukkan seberapa banyak karya ilmiah suatu peneliti atau institusi telah disitasi oleh peneliti lain. H-index adalah ukuran tingkat sitasi sesuai bidang keilmuan yang dipubliksikan. H Index mengukur produktivitas ilmiah jurnal dan dampak ilmiah ilmuwan di suatu negara. Kedua ukuran tersebut digunakan agar tidak hanya menghitung kinerja secara kuantitas namun juga termasuk dampak dari publikasi yang dihasilkan. | a) rasio sitasi = jumlah sitasi : jumlah publikasi b) H index dihitung dengan menentukan banyaknya sitasi dari seluruh publikasi yang ada di indonesia. h index diukur dengan Jumlah publikasi yang memiliki jumlah sitasi minimal sama dengan jumlah publikasi tersebut. Misalnya, jika seorang peneliti memiliki 10 artikel yang dikutip oleh minimal 10 artikel lain, maka h-indexnya adalah 10. | ||||
| 1477 | Tingkat kehadiran siswa dan santri yang mendapatkan makan bergizi gratis | Parent | persen | Persentase kehadiran siswa dan santri yang mendapatkan makan bergizi gratis | [jumlah dari total hari kehadiran siswa/santri dalam pemberian makanan bergizi dibagi dengan jumlah dari total hari pemberian makanan bergizi yang dijadwalkan untuk seluruh siswa/santri] | |||
| 1478 | Tingkat Partisipasi dalam Pembelajaran yang Teroganisasi (Satu Tahun Sebelum Usia Sekolah Dasar) | Parent | persen | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi; Klasifikasi Wilayah: Perdesaan, Perkotaan; Jenis Kelamin; Status Disabilitas; Kelompok Pengeluaran | Indikator ini mengukur angka partisipasi anak usia 6 tahun (satu tahun sebelum usia resmi masuk Sekolah Dasar) dalam program pendidikan yang terorganisir, yaitu:a.Pendidikan anak usia dini (Pra-sekolah) yang me- liputi Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), Bustanul Athfal (BA) dan PAUD.b. Sekolah Dasar/sederajat. | Tingkat partisipasi anak usia 6 tahun dalam program pembelajaran yang terorganisir merupakan persentase anak usia tersebut yang terdaftar sebagai peserta didik aktif, baik di tingkat PAUD maupun SD. Indikator ini dihitung berdasarkan survei Susenas. Perhitungan ini menggunakan pendekatan ANAR (Adjusted Net Attendance Ratio).Rumus: Keterangan:TP6 : Tingkat partisipasi anak usia 6 tahun di program pembelajaran yang terorganisirN6PAUD : Jumlah anak usia 6 tahun yang belajar di PAUD pada periode tertentuN6SD : Jumlah anak usia 6 tahun yang belajar di SD pada periode tertentuN6 : Jumlah populasi anak usia 6 tahun pada periode yang samaUsia yang digunakan dalam perhitungan indikator ini adalah usia sekolah (school age), bukan usia ketika pengumpulan data Susenas dilakukan. | ||
| 1479 | Tingkat Partisipasi dalam Pendidikan dan Pelatihan Formal dan non-Formal | Parent | persen | Wilayah Administrasi: Nasional, Provinsi; Klasifikasi Wilayah: Perdesaan, Perkotaan; Jenis Kelamin; Umur/Usia; Status Disabilitas; Kelompok Pengeluaran | Indikator ini mengukur partisipasi remaja dan dewasa dalam pendidikan dan pelatihan baik formal ataupun nonformal. Pendidikan formal yang dimaksud adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sementara pendidikan nonformal menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Indikator ini, dengan demikian, menghitung tingkat partisipasi (1) usia muda (15 – 24 tahun) dan (2) dewasa (25 – 64 tahun), laki-laki dan perempuan, dalam SD/ MI/Paket A, SMP/MTs/Paket B, SM/SMK/MA/Paket C, pendidikan tinggi, atau pendidikan nonformal lainnya seperti kursus, dalam 12 bulan terakhir terhitung sejak survei dilakukan. Tingginya angka indikator ini menunjukkan bahwa mayoritas usia muda dan dewasa berpartisipasi dalam pendidikan untuk meningkatkan kompetensinya. | Indikator ini menekankan pada partisipasi usia muda dan dewasa dalam pendidikan, terlepas dari pendidikan formal maupun nonformal. Oleh karena itu ada dua angka yang dihitung untuk indikator ini, yaitu (1) proporsi usia muda (15 – 24 tahun) dan (2) proporsi dewasa (25 – 64 tahun) dalam pendidikan.Rumus: Keterangan:Ii : Proporsi usia muda atau dewasa yang berpartisipasi dalam pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pelatihan dalam 12 bulan terakhirNi : Jumlah usia muda atau dewasa yang berpartisipasi dalam pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pelatihan dalam 12 bulan terakhir pada periode tertentuNTi : Jumlah total usia muda atau dewasa pada periode yang sama | ||
| 1480 | Tingkat partisipasi warga negara usia 13-15 tahun yang berpartisipasi dalam pendidikan menengah pertama | Parent | persen | Wilayah Administrasi: Kabupaten/Kota | Tingkat partisipasi warga negara usia 13- 15 tahun yang berpartisipasi pendidikan pertama dalam menengah | Jumlah anak usia 13-15 tahun yang sudah tamat atau sedang belajar di sekolah menengah pertama / Jumlah anak usia 13-15 tahun pada provinsi yang bersangkutan * 100% |